Kompetisi Sehat untuk Anak

Memasuki bulan Agustus, tentu terbayang aneka lomba di acara 17 Agustus-an ya. Seru dan menyenangkan, juga memberikan pengalaman menarik bagi anak-anak. Sebenarnya ada banyak lomba atau kompetisi di sekitar kita. Termasuk di dunia akademik saat prestasi menjadi nilai lebih dari sekedar angka rapor. Hmm, bagaimana ya menyikapi kompetisi dalam perkembangan anak? Kompetisi itu baik atau buruk? 

Kompetisi sangat dekat dengan persaingan. Menang dan dapat piala menjadi tujuan. Masyarakat membuat seolah-olah kita harus bersaing dengan orang lain untuk menjadi yang terbaik dalam suatu kompetisi. Kondisi ini sempat dipercaya dapat meningkatkan motivasi dan daya juang seseorang, termasuk anak. Agar menjadi percaya diri, maka ikutlah sebanyak-banyaknya lomba atau kompetisi. 

Di balik itu semua, tentu ada usaha tak kenal lelah demi menjadi yang terbaik. Termasuk stres, cemas, dan jenuh yang dirasakan oleh anak. Bila intensitas emosi yang dirasakan menjadi sangat besar, sangat mungkin hasilnya akan tidak optimal. Apalagi ketika kompetisi menjadi beban untuk mencapai suatu tujuan. Bukan hanya mengelola harapan diri akan kesuksesan, ketika berada dalam suatu kompetisi juga ada harapan dari orang lain, seperti orang tua, guru, atau pelatih, yang memberikan tekanan tertentu. Tidak sedikit cerita mengenai kegagalan yang membawa dampak jangka panjang dalam kehidupan seseorang.

Alice E. Schluger, Ph.D dalam sebuah artikel di Psychology Today menyatakan bahwa kompetitor terberat dalam suatu kompetisi adalah diri sendiri. Tantangan dari suatu kompetisi sebenarnya adalah bagaimana individu menunjukkan kemampuan terbaiknya. Individu berproses dari tidak bisa menjadi bisa, dari bisa menjadi terampil. Yang terjadi dalam kompetisi adalah juri membuat peringkat kemampuan yang ditampilkan sesuai kriteria yang disepakati. Jadi sebenarnya, tugas individu adalah menunjukkan kemampuan terbaik dirinya pada saat itu. Bukan semata bersaing dengan orang lain. 

Perubahan sudut pandang ini, menurut Schluger, menjadikan kompetisi lebih sehat. Harapan yang muncul menjadi realistis karena berpusat pada kemampuan terbaik yang dapat ditampilkan oleh diri sendiri. Ada empat tahapan untuk mengubah pandangan agar kompetisi menjadi lebih sehat: 

1. Luangkan waktu untuk mengelola rasa tidak nyaman atau cemas yang mungkin muncul. 

2. Kenali area kemampuan yang sudah dikuasai dengan baik dan amati perkembangan yang terjadi (dari tidak bisa menjadi bisa, dari bisa menjadi terampil). 

3. Fokus pada kekuatan yang dimiliki. 

4. Berusaha untuk terus memberikan yang terbaik, meskipun tidak selalu harus jadi yang terbaik. 

Untuk orang tua, keempat tahap tersebut bisa diterjemahkan dalam diskusi bersama anak mengenai kompetisi yang dihadapinya. Orang tua dapat menanyakan pertanyaan seperti di bawah ini dan mendengarkan secara aktif apa yang disampaikan anak:

1. Bagaimana perasaanmu menghadapi kompetisi ini?

2. Apa momen yang menarik bagimu selama latihan (atau selama kompetisi berlangsung)?

3. Bagaimana kemampuanmu?

4. Menurutmu, apa yang dapat dikembangkan dari kemampuanmu? 

Tentunya proses diskusi ini dapat disesuaikan dengan usia dan kemampuan anak. Dengan diskusi yang nyaman menggunakan komunikasi efektif, orang tua akan membantu anak berkembang. Dengan demikian kompetisi akan bermanfaat positif dalam perkembangan anak. Anak akan dapat melihat kemampuannya secara positif dan menunjukkan usaha untuk menampilkan kemampuan terbaiknya. (ANM)

 

Gambar artikel dari freepik.com

Anda Perlu Bantuan Psikolog?

Psikolog berpengalaman dan kompeten di bidang perkembangan, klinis, dan pendidikan siap membantu Anda di Kancil. Layanan ditujukan bagi anak, remaja hingga dewasa.

Mulai Konsultasi